Friday, September 16, 2005
dia...yang terduduk kaku di sebuah kursi tua
menatap kosong lautan manusia yang silih berganti melintas...
koyak moyak tertegun dalam persemaian kerinduan...dalam pekat.
rona wajah di ujung pengharapan dalam ketidakmampuan...
mengalirkan embun-embun bendungan air mata tanpa rasa
selaksa peristiwa kian redup sinarannya...
meninggalkan titik-titik kerinduan yang tak berujung.
tangan yang kian keriput, coba hancurkan tumpukan keping-keping kerinduan dalam kalbu
tak mampu bibir ini berucap...
hanya sebuah senyuman kecil yang kini terpatri dalam puing-puing perpisahan
tanpa kata....
diam....dalam kerinduan.
